Tidak ada lampu yang berkelap-kelip atau penonton yang bersorak – hanya gerungan dari mesin mobilnya. Tapi Elisa “ELZ” Indriani masih merasakan momennya.

Tidak terlalu berefek besar kala dia berkompetisi dengan 19 pembalap lainnya di ruangan kosong yang berbatas, dengan COVID-19 yang melarang perkumpulan masal. Dia akhirnya duduk di kursi balapnya untuk debut sim racing.

“Saya sangat gugup sampai lupa mana pedal gas dan rem,” ingat wanita berusia 29 tahun itu, yang menjadi pembalap sim racing wanita profesional pertama Indonesia tahun lalu ketika dia mengikuti Motorsport Championship Indonesia di bulan Desember.

Dia finis di urutan ke 16 dari 20 dan mengakui bahwa merasa cupu saat itu. Tapi lebih pentingnya lagi, pebalap yang sangat bersemangat ini tiba di garis start, bertahun-tahun setelah lap pertamanya di Gran Turismo 2 ketika berumur 6 tahun. Hari ini, ELZ sudah pindah yang awalnya bermain di PlayStation, ke sebuah rig yang sudah terpasang stir, pedal, dan monitor layar lebar.

This image has an empty alt attribute; its file name is IMG_9704-min-768x1024.jpg

Photo credit: Eliza Indriani

Yang dulunya berprofesi sebagai desainer grafis ini membangun sebuah tim bernama Luna Nera Esports awal tahun 2020 untuk meningkatkan komunitas gaming perempuan. Dia mulai mewakili tim ini beberapa bulan kemudian setelah membangun koneksi dengan lewat Instagram.

“Ketika saya bermain gim balap, saya bisa mendorong diri saya sampai ke batas dan menjadi versi terbaik dari diri saya,” kata ELZ. Di turnamen keduanya, dia berhasil lolos ke final di urutan ke 9 dan finis di 16. Dia bermain gim seperti Gran Turismo, R Factor 2, dan Asseto Corza.

Pembalap yang diidolakannya adalah pembalap Inggris, Jamie Chadwick, pembalap wanita pertama dan termuda Inggris untuk menjuarai British GT Championship. Chadwick sangat mendukung banyak perempuan yang mengikuti sim racing.

EYES ON THE ROAD

Untuk membuktikan bahwa perempuan bisa berhasil di sim racing, ELZ berlatih selama 9 jam sehari di jalur yang berbeda dengan mobil yang berbeda juga. Semuanya tentang “mengetahui mobil yang pas untuk anda”, jelasnya. Biasanya, staff turnamen akan mengumumkan jalur dan tipe mobil apa yang bisa digunakan 2 minggu sebelumnya. Hal ini digunakan untuk latihan sampai ke hari pertandingan.

Photo credit: Eliza Indriani

“Kamu harus mengingat jalur dan kecepatan yang dibutuhkan di setiap belokan, kata ELZ, yang dilatih oleh pembalap Indonesia Rizal Wungkar. Kebanyakan hari mereka biasa melihat hasil balap menggunakan video dan berdiskusi di Discord. “Latihan bisa membosankan untuk beberapa orang karena kamu membalap 50 lap selama 3 jam, tapi saranku cari hal yang lebih menarik agar bisa lebih fokus”.

Dia sangat ingin mengikuti Balap di Rumah pada bulan April, dimana banyak sim racer akan bersaing dengan racer pro di Asetto Corza. Keluarganya semua mendukung karir barunya ini dan ini sangat membantu – ibunya bahkan mengingatkannya turnamen yang akan datang.

Walaupun pembalap sim racing didominasi oleh pria, dia meyakini kalau mobil tidak pernah membedakan mana pria dan wanita. Dia juga bersyukur karena bermain di komunitas yang bersahabat dan berharap banyak pembalap wanita yang ikut. Lingkungan yang toxic di beberapa game lain tidak berlaku disini, yang membuat dia semangat. “Orang-orang di sim racing sangat bersemangat melihat wanita yang cukup berani masuk ke skena ini,” katanya. “Tidak ada gender di permainan balap – kita hanya ingin menang,”

- Advertisement -